Suatu sore di hari kerja

kerut di jidat
longsor
lewat pelipis tanpa alis
numpuk dimata
rimbunnya merah
entah, mungkin menjadi tahi mata

keringat berbulir, beku
takluk oleh ragu-ragu
bergulir ke jantung
tiada mencair
jadi letih pori-pori
sebagai jalan keluar kembali

redam segala impian
perjalanan panjang usia
tak ada arti
di hening di ramai
keruh mata air
tumpahkan air mata

ketika telunjuk keras menumbuk
remuk dada kami
telah kau buat sangsi :
hati

November 2011

, , , , ,

Leave a Comment

Rindu kata-kata

kata-kata ini
catatan rindu terbenam
di kutip dari muasal
dasar bumi paling dalam

sebagaimana suaranya:
‘rinduku berkata-kata’

lepas
lunglai diruas kertas
rinduku bebas meretas
melepas kalimat asuhan alam
tercetak tanpa wawasan

rinduku,
bukan buatan tangan

19112011

, , , , ,

Leave a Comment

Mengurai rindu

Aku melihat segala yang kau pandang
Sudut-sudut terbuka
perihal diam dan bergerak

dijalanan terhampar seluruh tapak
tak perlu rasa-ku lelah memburu jejak
lelah yang lama di keluhi kaki
terasa gatal pegal kepingin di obati

lewat mata mu
aku melahap nikmat kenangan mu
kenangan yang terhidang begitu hangat
sesaji rasa-ku
penawar ingin dan dingin ku

bersama langkah mu
di jalan itu
aku sendirian berurai rindu

Oktober 2011

, , , , ,

Leave a Comment

Kopi pagi

Setiap pagi saat menyeduh kopi
aku perhatikan ada tangan-tangan kecil menggapai-gapai
timbul tenggelam dalam pusaran
meminta tolong atau hendak membantu, tak jelas
tubuhmu pupus digedoh
diputaran sendok dan gemeletak gelas
Pada tiap regukannya seperti menelan suara
atau bahkan sebentuk kata sebagai rasa
ingin berujar malah terbujur kaku ditenggorokan
lalu ikut, turut, menyangkut pada tiap lembar nafas
yang terbang bersama hembusan asap kelabu
kretek cigarettes ku

seperti pagi ini, ia berenang dan melayang.

Ciputat, 20111

Leave a Comment

Adeku

: Shara el azizah basyar

1/ Ia hilang
tersesat dalam rimba
pikiran yang perawan

2/ Ia menyerah
oleh tawaran cinta
yang rebah dipangkuan

3/ Ia meraba
diawal usia
mengelus mimpi tentang asmara

4/ Ia merasa
nafas segar yang terasa
wangi dari tubuh arjuna

5/ Ia limbung
diterpa angin savana
digemulai tarian ilalang, gemerisiknya

6/ Ia berketetapan
ini hidup dan hidupnya
jalan yang mereka akan tempuh, masing-masing

261110

Leave a Comment

Semalam dirumah bidan

19:30 wib

Kalau ditanya pertanda, tiada
tiada angin tiada hujan ia datang, seperti kabar
selepas isya ia datang:
cair,
mengalir dari bibir, hulu
bongkahan beku mata air
meretas didinding, bening

selaput ketuban pecah

‘bergegas cinta, ini saatnya untuk berkaca’
tenang, pelan-pelan permata
kita basuh muka dibeningnya

20:30 wib

Ketuban pecah berbahaya
1 x 24 jam harus lahir
selebihnya bahaya, kering
tiada lagi kehidupan bisa kau pinta

20:45 wib

‘Bapak dari calon bayi, mana?’
suara santai perempuan
ibu bidan setengah baya, bertanya
‘saya’.
lelaki tergagap, menjawab
jenggot didagu ikut bergerak
‘mesti di infus ya pak, biar basah, merangsang mules-mules’
menitik diselang
merembas di urat
menyatu dengan syaraf

21:30 wib

waktu berjalan tergantung perasaan
langkahnya perlu disesuaikan
memburu kita, sembunyi ia
temukan, cobalah memberi salam
menjabat tangannya untuk berteman

23:00 wib

Malam serasa ramai
dihawa penuh obrolan
diduduk diberdiri waktu menemani
mencerna kata, kata siapa mudah?
tak tahu kasar, tak tahu halus
tak tahu apakah berirama
sudah, lupakan saja
biar pena yang menuai

23:15 wib

Aku dan waktu bersahabat penuh, sederhana
diruang belakang yang sesak harapan
meniti kata seuntai doa
sejalan saja,
tiada basa-basi untuk pergi atau meninggalkan
apa lagi lupa kata, untuk bercerai
aku dan ia sangat menikmatinya
saat ibuku datang menawarkan perselingkuhan, ia tenang
begitu juga saat adik perempuanku membawa kenalan
ia tenang, berbisik: sabar, kita sudah tunangan
ia selalu mengingatkan: ini aku, waktu
teruslah bergandeng disampingku
walau merayap, alhasil semua senyap
didetik itu, nanti, sebentar lagi
inginmu menemui

23:45 wib

kau wanita perkasa
diusia belia
ditahu yang perawan
dimau yang kosong
didoa yang berulang
dipuji yang tersebut

00:05 wib

Headline news
dikaca televisi 14 inchi
sekilas, duka ditampilkan, berderet luka
luka-luka yang mesti diobati
bukan digaruk lagi
duka yang mesti diseka, diusap, dibangun
menatanya utuh kembali

tapi sekarang zaman televisi berwarna
tak lagi laku hitam putih

02:30 wib

Wanita ini memang perkasa
tiada kata berbilang: tidak!
ini kesempatan purba
melengkapinya sebagai wanita

- jeda mules-mules makin kerap
rintihan terdengar acap -

wanita itu juga perkasa
tiada kerja terbilang: kata
itulah biasa tapi langka
merancang waktu, gemar menunggu

- datang pada batas interval
jari-jari begitu hafal -

04:15 wib

Tikar pandan yang digelar semenjak sore akhirnya memberi saran
untuk sekejap meruntuhkan tubuh diatasnya
menyelonjorkan kaki atau sekedar tidur ayam
dari tadi ia lelah menyarap telapak, menjaganya dari dingin hawa ubin
aku faham, aku menangkap maksud baik tawarannya
bahwa sekarang tubuh tak seutuh dulu
tapi…aah, setiap kudengar rintihan perempuan didalam kamar
mana sempat aku meladeni ajakan mesranya
apa lagi saat kuintip duka perempuan yang terus bertahan
mata ini menjadi tegar, tak sudi lagi memejamkannya, walau sebentar
tapi, ya sudah, biar bagaimanapun ia sahabat
tak enak rasanya menolak niat baik sahabat
kuselonjorkan kaki saja, ingat!, tidak untuk memejamkan mata
sebagai gantinya, aku berjanji:
sebentar akan datang subuh, kujadikan ia tempat bersimpuh

04:50 wib

ini rindu
diwaktu sempit
bersama-Mu

06:15 wib

Ini titik yang dijanjikan waktu
detik dimana kami sepakat berpisah
‘sesekali akan kau lihat aku nun jauh,
sesekali kau merasa aku membuntutimu’, katanya
diperbatasan cahaya, fajar

06:20 wib

Seorang yang dikuasai kepadanya keterampilan, ucapannya lebih bermakna
ketimbang seorang pandai berkata-kata, tiada bekerja
ia dayung sampanku
menyebrangi lautan sedih

aku tidak SIAGA!

aku memilih menepi
dari gemuruh lautan rintih

06:35 wib

Mulai pagi ini aku panggil kamu
‘ibu’.

29-30 Oktober 2010

, , , ,

Leave a Comment

Sampai mati jangan berhenti

Sampai mati jangan berhenti
suara renyah ditelinga ini
sampai mati jangan berhenti
desah garing dijantung ini
sampai mati jangan berhenti
merekah kembang ditaman hati
sampai mati jangan berhenti
memupuk semak dibelantara otak

tanda low bat dari setadi
sampai mati sendiri hp ini

151010

Leave a Comment

Iman

Khotbah jum’at tanggal 15 Oktober 2010. Masjid Baitu Ula.

Khotib: Ustadz DR. Asep usman ismail.

Kau
ungkapan cinta
mengendap dalam cangkang hatiku
sebagai penentu
pada ikatan langkah
menuju induk segala tujuan

Kau bara apiku
menyala dipuncak pengetahuanku
disumbu yang satu
pada minyak yang padu
menjadi suluh menuju-Mu

Kau detak nadiku, nafas dalam inginku
menjaga ruku’ dan khusyu’
penggerak sujud dan tuma’ninah-ku

Kau waktu dan ruang, siang dan malam, jalan tengahku
tawar
hambar
datar
penenang limbungku
penyeimbang bingungku
menghantar ke-terang-Mu

221010

Leave a Comment

Orang-orang dalam tembok

Orang-orang dalam tembok menghirup udara yang sama
saat paru menghelanya dan memberikan nafas pada jantungku dan perasaannya
merasakan desir yang sama
saat bisikannya menjilat kuping hatiku dan menggelitik pinggang hatinya
dan mengirimkan tanda
sebentuk amarah
sewujud cinta
dalam sebuah kata
kata yang sama ketika di ucapkan oleh pena yang berbeda

Jika rintikan kata yang di sampaikan hujan mereka jelma menjadi tetesan air mata
dalam bingkai
pada garis dan lekukan tembok
maka aku menuliskan nya bersama akar muda ceria
yang menyeruput sari tanpa berkata-kata
begitu juga protes matahari
aku melafalkan nya bersama langkah bocah-bocah berlarian di jerangnya
tanpa suara

pada bumi yang sama kita berdiri
namun melangkah pada pijak yang berbeda
kalian di didik oleh gerimis dan tampiasnya
aku adalah bulir mengalir dilembar genting
kalian di ajar oleh cercah pada ufuknya
aku adalah hangat dan keringat menguap disusunan bata

dipinggir-pinggir pondasi bersama cacing dan serangga
aku menuliskan kalimat pada bunga-bunga kecil
yang meranggaskan akarnya bersama gulma liar dan lumut licin
aku dan keseluruhan tubuhku adalah pena berisi tinta kotoran
yang memeper kisah bocah-bocah ditembok mu

201010

Leave a Comment

Catatan curhat

Cermin

Aku menerima bingkisan
dari hening
sebuah cermin

/ Ciputat, 91010

Negara bencana

Dari keluarga sampai negara
mendidik anak dan cucu bangsa
hendaklah kita jera
di ajar oleh bencana

/ Ciputat, 91010

Pengamen

Ada pengamen di depan pintu
menyanyikan lagu rakyat
setengah lagu aku bayar jasanya
menghibur hariku
Di dalam ruangan agung DPR
seorang anggota terhormat
berbisik dengan teman fraksinya
‘Ayo, terus berdansa
mereka yang teriak di luar
sudah di bayar upahnya’
menghibur negeri adi kuasa

/ Ciputat, 91010

Nafas

Asap bara tembako
yang di bakar api hasrat
oleh tangan gemetar
memegang lamunan yang buyar
tak lagi jauh inspirasi
tak lagi keras tarikannya
di kembang kempis paru
kali ini,
beri aku mariyuana

/ Ciputat, 27910

LSM sipilis

Aku bukan masyarakat mu
Aku masyarakat pemimpinku

/ Ciputat, 81010

Boneka

Pulang nyoblos dari TPS
menemu bungkusan plastik kresek
tak mungkin sampah
karna tergeletak di jalan tengah
pelan-pelan ku buka, isinya boneka
mukanya mirip sepotong wajah
yang barusan ku coblos tepat di hidungnya

/ Ciputat, 91010

Untuk sahabat yang bersedih

Kadang-kadang yang mengerti hanya malam
hitam
gelap
rambut
dan kopi pekat

/ Ciputat, 101010

Putri maya

Pertemuan:
coba jelaskan padaku maksud kedip di matamu

di jabatmu:
kau hanyutkan syahdu di poriku
yang kau tahu nadiku telah mendetak cemburu

ngobrol:
semua yang telah jelas terungkap
belum tentu tuntas tersingkap

pulang:
sungguh kau telah berperkara dengan hatiku

/ Ciputat, 101010

Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.