Suatu sore di hari kerja
Posted by andripleunwahyudi in MyTulisan on 14 December 2011
kerut di jidat
longsor
lewat pelipis tanpa alis
numpuk dimata
rimbunnya merah
entah, mungkin menjadi tahi mata
keringat berbulir, beku
takluk oleh ragu-ragu
bergulir ke jantung
tiada mencair
jadi letih pori-pori
sebagai jalan keluar kembali
redam segala impian
perjalanan panjang usia
tak ada arti
di hening di ramai
keruh mata air
tumpahkan air mata
ketika telunjuk keras menumbuk
remuk dada kami
telah kau buat sangsi :
hati
November 2011
Rindu kata-kata
Posted by andripleunwahyudi in MyTulisan on 5 December 2011
kata-kata ini
catatan rindu terbenam
di kutip dari muasal
dasar bumi paling dalam
sebagaimana suaranya:
‘rinduku berkata-kata’
lepas
lunglai diruas kertas
rinduku bebas meretas
melepas kalimat asuhan alam
tercetak tanpa wawasan
rinduku,
bukan buatan tangan
19112011
Mengurai rindu
Posted by andripleunwahyudi in MyTulisan on 5 December 2011
Aku melihat segala yang kau pandang
Sudut-sudut terbuka
perihal diam dan bergerak
dijalanan terhampar seluruh tapak
tak perlu rasa-ku lelah memburu jejak
lelah yang lama di keluhi kaki
terasa gatal pegal kepingin di obati
lewat mata mu
aku melahap nikmat kenangan mu
kenangan yang terhidang begitu hangat
sesaji rasa-ku
penawar ingin dan dingin ku
bersama langkah mu
di jalan itu
aku sendirian berurai rindu
Oktober 2011
Kopi pagi
Posted by andripleunwahyudi in MyTulisan on 20 January 2011
Setiap pagi saat menyeduh kopi
aku perhatikan ada tangan-tangan kecil menggapai-gapai
timbul tenggelam dalam pusaran
meminta tolong atau hendak membantu, tak jelas
tubuhmu pupus digedoh
diputaran sendok dan gemeletak gelas
Pada tiap regukannya seperti menelan suara
atau bahkan sebentuk kata sebagai rasa
ingin berujar malah terbujur kaku ditenggorokan
lalu ikut, turut, menyangkut pada tiap lembar nafas
yang terbang bersama hembusan asap kelabu
kretek cigarettes ku
seperti pagi ini, ia berenang dan melayang.
Ciputat, 20111
Adeku
Posted by andripleunwahyudi in MyTulisan on 14 January 2011
: Shara el azizah basyar
1/ Ia hilang
tersesat dalam rimba
pikiran yang perawan
2/ Ia menyerah
oleh tawaran cinta
yang rebah dipangkuan
3/ Ia meraba
diawal usia
mengelus mimpi tentang asmara
4/ Ia merasa
nafas segar yang terasa
wangi dari tubuh arjuna
5/ Ia limbung
diterpa angin savana
digemulai tarian ilalang, gemerisiknya
6/ Ia berketetapan
ini hidup dan hidupnya
jalan yang mereka akan tempuh, masing-masing
261110
Semalam dirumah bidan
Posted by andripleunwahyudi in MyTulisan on 6 November 2010
19:30 wib
Kalau ditanya pertanda, tiada
tiada angin tiada hujan ia datang, seperti kabar
selepas isya ia datang:
cair,
mengalir dari bibir, hulu
bongkahan beku mata air
meretas didinding, bening
selaput ketuban pecah
‘bergegas cinta, ini saatnya untuk berkaca’
tenang, pelan-pelan permata
kita basuh muka dibeningnya
20:30 wib
Ketuban pecah berbahaya
1 x 24 jam harus lahir
selebihnya bahaya, kering
tiada lagi kehidupan bisa kau pinta
20:45 wib
‘Bapak dari calon bayi, mana?’
suara santai perempuan
ibu bidan setengah baya, bertanya
‘saya’.
lelaki tergagap, menjawab
jenggot didagu ikut bergerak
‘mesti di infus ya pak, biar basah, merangsang mules-mules’
menitik diselang
merembas di urat
menyatu dengan syaraf
21:30 wib
waktu berjalan tergantung perasaan
langkahnya perlu disesuaikan
memburu kita, sembunyi ia
temukan, cobalah memberi salam
menjabat tangannya untuk berteman
23:00 wib
Malam serasa ramai
dihawa penuh obrolan
diduduk diberdiri waktu menemani
mencerna kata, kata siapa mudah?
tak tahu kasar, tak tahu halus
tak tahu apakah berirama
sudah, lupakan saja
biar pena yang menuai
23:15 wib
Aku dan waktu bersahabat penuh, sederhana
diruang belakang yang sesak harapan
meniti kata seuntai doa
sejalan saja,
tiada basa-basi untuk pergi atau meninggalkan
apa lagi lupa kata, untuk bercerai
aku dan ia sangat menikmatinya
saat ibuku datang menawarkan perselingkuhan, ia tenang
begitu juga saat adik perempuanku membawa kenalan
ia tenang, berbisik: sabar, kita sudah tunangan
ia selalu mengingatkan: ini aku, waktu
teruslah bergandeng disampingku
walau merayap, alhasil semua senyap
didetik itu, nanti, sebentar lagi
inginmu menemui
23:45 wib
kau wanita perkasa
diusia belia
ditahu yang perawan
dimau yang kosong
didoa yang berulang
dipuji yang tersebut
00:05 wib
Headline news
dikaca televisi 14 inchi
sekilas, duka ditampilkan, berderet luka
luka-luka yang mesti diobati
bukan digaruk lagi
duka yang mesti diseka, diusap, dibangun
menatanya utuh kembali
tapi sekarang zaman televisi berwarna
tak lagi laku hitam putih
02:30 wib
Wanita ini memang perkasa
tiada kata berbilang: tidak!
ini kesempatan purba
melengkapinya sebagai wanita
- jeda mules-mules makin kerap
rintihan terdengar acap -
wanita itu juga perkasa
tiada kerja terbilang: kata
itulah biasa tapi langka
merancang waktu, gemar menunggu
- datang pada batas interval
jari-jari begitu hafal -
04:15 wib
Tikar pandan yang digelar semenjak sore akhirnya memberi saran
untuk sekejap meruntuhkan tubuh diatasnya
menyelonjorkan kaki atau sekedar tidur ayam
dari tadi ia lelah menyarap telapak, menjaganya dari dingin hawa ubin
aku faham, aku menangkap maksud baik tawarannya
bahwa sekarang tubuh tak seutuh dulu
tapi…aah, setiap kudengar rintihan perempuan didalam kamar
mana sempat aku meladeni ajakan mesranya
apa lagi saat kuintip duka perempuan yang terus bertahan
mata ini menjadi tegar, tak sudi lagi memejamkannya, walau sebentar
tapi, ya sudah, biar bagaimanapun ia sahabat
tak enak rasanya menolak niat baik sahabat
kuselonjorkan kaki saja, ingat!, tidak untuk memejamkan mata
sebagai gantinya, aku berjanji:
sebentar akan datang subuh, kujadikan ia tempat bersimpuh
04:50 wib
ini rindu
diwaktu sempit
bersama-Mu
06:15 wib
Ini titik yang dijanjikan waktu
detik dimana kami sepakat berpisah
‘sesekali akan kau lihat aku nun jauh,
sesekali kau merasa aku membuntutimu’, katanya
diperbatasan cahaya, fajar
06:20 wib
Seorang yang dikuasai kepadanya keterampilan, ucapannya lebih bermakna
ketimbang seorang pandai berkata-kata, tiada bekerja
ia dayung sampanku
menyebrangi lautan sedih
aku tidak SIAGA!
aku memilih menepi
dari gemuruh lautan rintih
06:35 wib
Mulai pagi ini aku panggil kamu
‘ibu’.
29-30 Oktober 2010
Sampai mati jangan berhenti
Posted by andripleunwahyudi in MyTulisan on 28 October 2010
Sampai mati jangan berhenti
suara renyah ditelinga ini
sampai mati jangan berhenti
desah garing dijantung ini
sampai mati jangan berhenti
merekah kembang ditaman hati
sampai mati jangan berhenti
memupuk semak dibelantara otak
tanda low bat dari setadi
sampai mati sendiri hp ini
151010
Iman
Posted by andripleunwahyudi in MyTulisan on 22 October 2010
Khotbah jum’at tanggal 15 Oktober 2010. Masjid Baitu Ula.
Khotib: Ustadz DR. Asep usman ismail.
Kau
ungkapan cinta
mengendap dalam cangkang hatiku
sebagai penentu
pada ikatan langkah
menuju induk segala tujuan
Kau bara apiku
menyala dipuncak pengetahuanku
disumbu yang satu
pada minyak yang padu
menjadi suluh menuju-Mu
Kau detak nadiku, nafas dalam inginku
menjaga ruku’ dan khusyu’
penggerak sujud dan tuma’ninah-ku
Kau waktu dan ruang, siang dan malam, jalan tengahku
tawar
hambar
datar
penenang limbungku
penyeimbang bingungku
menghantar ke-terang-Mu
221010
Orang-orang dalam tembok
Posted by andripleunwahyudi in MyTulisan on 20 October 2010
Orang-orang dalam tembok menghirup udara yang sama
saat paru menghelanya dan memberikan nafas pada jantungku dan perasaannya
merasakan desir yang sama
saat bisikannya menjilat kuping hatiku dan menggelitik pinggang hatinya
dan mengirimkan tanda
sebentuk amarah
sewujud cinta
dalam sebuah kata
kata yang sama ketika di ucapkan oleh pena yang berbeda
Jika rintikan kata yang di sampaikan hujan mereka jelma menjadi tetesan air mata
dalam bingkai
pada garis dan lekukan tembok
maka aku menuliskan nya bersama akar muda ceria
yang menyeruput sari tanpa berkata-kata
begitu juga protes matahari
aku melafalkan nya bersama langkah bocah-bocah berlarian di jerangnya
tanpa suara
pada bumi yang sama kita berdiri
namun melangkah pada pijak yang berbeda
kalian di didik oleh gerimis dan tampiasnya
aku adalah bulir mengalir dilembar genting
kalian di ajar oleh cercah pada ufuknya
aku adalah hangat dan keringat menguap disusunan bata
dipinggir-pinggir pondasi bersama cacing dan serangga
aku menuliskan kalimat pada bunga-bunga kecil
yang meranggaskan akarnya bersama gulma liar dan lumut licin
aku dan keseluruhan tubuhku adalah pena berisi tinta kotoran
yang memeper kisah bocah-bocah ditembok mu
201010
Catatan curhat
Posted by andripleunwahyudi in MyTulisan on 10 October 2010
Cermin
Aku menerima bingkisan
dari hening
sebuah cermin
/ Ciputat, 91010
Negara bencana
Dari keluarga sampai negara
mendidik anak dan cucu bangsa
hendaklah kita jera
di ajar oleh bencana
/ Ciputat, 91010
Pengamen
Ada pengamen di depan pintu
menyanyikan lagu rakyat
setengah lagu aku bayar jasanya
menghibur hariku
Di dalam ruangan agung DPR
seorang anggota terhormat
berbisik dengan teman fraksinya
‘Ayo, terus berdansa
mereka yang teriak di luar
sudah di bayar upahnya’
menghibur negeri adi kuasa
/ Ciputat, 91010
Nafas
Asap bara tembako
yang di bakar api hasrat
oleh tangan gemetar
memegang lamunan yang buyar
tak lagi jauh inspirasi
tak lagi keras tarikannya
di kembang kempis paru
kali ini,
beri aku mariyuana
/ Ciputat, 27910
LSM sipilis
Aku bukan masyarakat mu
Aku masyarakat pemimpinku
/ Ciputat, 81010
Boneka
Pulang nyoblos dari TPS
menemu bungkusan plastik kresek
tak mungkin sampah
karna tergeletak di jalan tengah
pelan-pelan ku buka, isinya boneka
mukanya mirip sepotong wajah
yang barusan ku coblos tepat di hidungnya
/ Ciputat, 91010
Untuk sahabat yang bersedih
Kadang-kadang yang mengerti hanya malam
hitam
gelap
rambut
dan kopi pekat
/ Ciputat, 101010
Putri maya
Pertemuan:
coba jelaskan padaku maksud kedip di matamu
di jabatmu:
kau hanyutkan syahdu di poriku
yang kau tahu nadiku telah mendetak cemburu
ngobrol:
semua yang telah jelas terungkap
belum tentu tuntas tersingkap
pulang:
sungguh kau telah berperkara dengan hatiku
/ Ciputat, 101010



