19:30 wib
Kalau ditanya pertanda, tiada
tiada angin tiada hujan ia datang, seperti kabar
selepas isya ia datang:
cair,
mengalir dari bibir, hulu
bongkahan beku mata air
meretas didinding, bening
selaput ketuban pecah
‘bergegas cinta, ini saatnya untuk berkaca’
tenang, pelan-pelan permata
kita basuh muka dibeningnya
20:30 wib
Ketuban pecah berbahaya
1 x 24 jam harus lahir
selebihnya bahaya, kering
tiada lagi kehidupan bisa kau pinta
20:45 wib
‘Bapak dari calon bayi, mana?’
suara santai perempuan
ibu bidan setengah baya, bertanya
‘saya’.
lelaki tergagap, menjawab
jenggot didagu ikut bergerak
‘mesti di infus ya pak, biar basah, merangsang mules-mules’
menitik diselang
merembas di urat
menyatu dengan syaraf
21:30 wib
waktu berjalan tergantung perasaan
langkahnya perlu disesuaikan
memburu kita, sembunyi ia
temukan, cobalah memberi salam
menjabat tangannya untuk berteman
23:00 wib
Malam serasa ramai
dihawa penuh obrolan
diduduk diberdiri waktu menemani
mencerna kata, kata siapa mudah?
tak tahu kasar, tak tahu halus
tak tahu apakah berirama
sudah, lupakan saja
biar pena yang menuai
23:15 wib
Aku dan waktu bersahabat penuh, sederhana
diruang belakang yang sesak harapan
meniti kata seuntai doa
sejalan saja,
tiada basa-basi untuk pergi atau meninggalkan
apa lagi lupa kata, untuk bercerai
aku dan ia sangat menikmatinya
saat ibuku datang menawarkan perselingkuhan, ia tenang
begitu juga saat adik perempuanku membawa kenalan
ia tenang, berbisik: sabar, kita sudah tunangan
ia selalu mengingatkan: ini aku, waktu
teruslah bergandeng disampingku
walau merayap, alhasil semua senyap
didetik itu, nanti, sebentar lagi
inginmu menemui
23:45 wib
kau wanita perkasa
diusia belia
ditahu yang perawan
dimau yang kosong
didoa yang berulang
dipuji yang tersebut
00:05 wib
Headline news
dikaca televisi 14 inchi
sekilas, duka ditampilkan, berderet luka
luka-luka yang mesti diobati
bukan digaruk lagi
duka yang mesti diseka, diusap, dibangun
menatanya utuh kembali
tapi sekarang zaman televisi berwarna
tak lagi laku hitam putih
02:30 wib
Wanita ini memang perkasa
tiada kata berbilang: tidak!
ini kesempatan purba
melengkapinya sebagai wanita
- jeda mules-mules makin kerap
rintihan terdengar acap -
wanita itu juga perkasa
tiada kerja terbilang: kata
itulah biasa tapi langka
merancang waktu, gemar menunggu
- datang pada batas interval
jari-jari begitu hafal -
04:15 wib
Tikar pandan yang digelar semenjak sore akhirnya memberi saran
untuk sekejap meruntuhkan tubuh diatasnya
menyelonjorkan kaki atau sekedar tidur ayam
dari tadi ia lelah menyarap telapak, menjaganya dari dingin hawa ubin
aku faham, aku menangkap maksud baik tawarannya
bahwa sekarang tubuh tak seutuh dulu
tapi…aah, setiap kudengar rintihan perempuan didalam kamar
mana sempat aku meladeni ajakan mesranya
apa lagi saat kuintip duka perempuan yang terus bertahan
mata ini menjadi tegar, tak sudi lagi memejamkannya, walau sebentar
tapi, ya sudah, biar bagaimanapun ia sahabat
tak enak rasanya menolak niat baik sahabat
kuselonjorkan kaki saja, ingat!, tidak untuk memejamkan mata
sebagai gantinya, aku berjanji:
sebentar akan datang subuh, kujadikan ia tempat bersimpuh
04:50 wib
ini rindu
diwaktu sempit
bersama-Mu
06:15 wib
Ini titik yang dijanjikan waktu
detik dimana kami sepakat berpisah
‘sesekali akan kau lihat aku nun jauh,
sesekali kau merasa aku membuntutimu’, katanya
diperbatasan cahaya, fajar
06:20 wib
Seorang yang dikuasai kepadanya keterampilan, ucapannya lebih bermakna
ketimbang seorang pandai berkata-kata, tiada bekerja
ia dayung sampanku
menyebrangi lautan sedih
aku tidak SIAGA!
aku memilih menepi
dari gemuruh lautan rintih
06:35 wib
Mulai pagi ini aku panggil kamu
‘ibu’.
29-30 Oktober 2010





#1 by eraha on 1 June 2012 - 23:33
paling suka sama yang ini Om,,,salam ^_^
#2 by andripleunwahyudi on 2 June 2012 - 00:09
makasih teman, ….terus berkarya…salam