LINGKARAN

Dia datang pertama kali
Terlihat dengan apa adanya
Disini aku
Mengenal sesuatu dengan apa adanya
Mendengarnya dimana-mana
Tapi enggan mencarinya
Pada suatu hari
Kita saling bertatap muka
Tak ada apa-apa
Melalui teman aku banyak bertanya
‘Mengapa dia bohong?’
Keyakinanmu dalam
Suaramu lantang
Hidupmu sudah bepergian
Aku pertama kali mengenalnya
Dia datang kesini membawa apa saja
Aku hadir disini
Kawan-kawanku ada sejuta
Mereka mengenal sesuatu dengan apa adanya
Hingga aku gampang berkata:
‘Kita hantam dia…..’
Sekonyong dia terasa hadir disini
Semua merasakan keberadaannya
Secepat dia berkata-kata:
‘Ayo kawan-kawan,
Kita makan
Kita jalan-jalan
Melintasi dataran
Menemui harapan’
Aku terdiam
Teman-teman melayang
Sekali lagi dia mengulang
Maka mereka bertebaran
Menginjak bebatuan
Melompati kembang-kembang
Ketimbang kesepian
Aku ikut berlarian
Ditengah hutan
Akhirnya membuat lingkaran
Sadar menatap matahari jingga
Ternyata senja adalah bayangannya
Tengah malam
Kami bubar

Mereka bertemu lagi
Aku juga datang
Aku kesepian
Kala kepala berpikir
Mereka semua berteriak
Hampir bersamaan:
‘Kami cinta kau……’
Mereka berkerubung
Satu diantaranya berkata
‘Beradalah ditengah’
Semua lalu berjalan
Seribu orang didepan
Seribu orang dibelakang
Beribu-ribu disisi-sisinya
Di tengah-tengah dia berjalan
Dengan kehormatan
Dia bebas mencari jalan
Menunjuk-tunjuk arah
Menunjuk-tunjuk muka
Mereka diam
Kami terdiam
Seperti bulan
Seperti malam
Sampai diperbukitan
Kami berhenti berarakan
Mereka enggan
Satu diantaranya maju kehadapan
‘Kami lapar’
Dia diam
Gelap diam
Daun-daun diam
Aku melirik matanya tertuju puncak gunung
Sebentar saja dia mendengus
Lalu kembali menatap
Awan diam
Angin diam
Malam diam
Dan mereka mengulang:
‘Kami lapar’
Langit mendung
Dia tersenyum
Menengadah bijaksana seperti  bapak
‘Mari saudara-saudaraku, kita makan’
Angin bersliweran
Awan berpecah
Daun-daun jatuh ketanah
Ibarat air mata

Dia disini
Aku mendatanginya
Aku memandangnya bagai cakrawala
Bersama tergugah
Dia
Aku
Kamu
Tiupan sangkala senja
‘Akankah kita berjumpa duhai puncak gunung?’
Terselimut kabut
‘Benarkah langkah ku cerai berai, Salahkah mereka yg meninggalkan?’
Dia berkacak pinggang
Dia datang dari kota-kota yg memuji
Dia susur jejak-jejak panjang
Dia minum dari sungai-sungai
Kesadaran dan kesabaran………..pergi.
Ada gumam:
Tak sebersit niat matahari membakar
Tak sekalian bintang-bintang jatuh kebumi
Dan biar kesedihan rembulan berlarut
Ketika manusia berlarian
Menginjak bebatuan
Melompati kembang-kembang
Mereka diam
Angin diam
Awan diam
Daun-daun diam
Aku terdiam
Seperti kebodohan

Antara 95-09

*Untuk sahabat, abang, guru…Muhammad Iskandar (H.Pandu)

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s