Posts Tagged catatan

Curhat Ramadhan

Waktu

Belum jeda ku menyeka
merawat luka, lalu
mata sabit puasa menebas, leher
muncratkan darah, segar
liurpun tertahan ditenggorokan

belum rampung ku gelisah
ketika langkah masih resah diselasar rumah
mata sabit puasa sekali lagi menebas
perut keroncongan
disisa hari berbuka

Terpana ku, mati
menatap pesona senja

230712

Senja

Bertemu pada satu titik
dalam bujur dan lintang berbeda

mata-mata berbeda
sudut pandang yang sama

mata-mata yang sama
pada cara pandang berbeda

satu titik yang sama
adalah cahaya diperbatasan samar
semburat tatapannya
berkah pertentangan
mata-mata cerdik pandai

250712

Pandai

Sepanjang ingatan
ia cuma aksara
risalah bumi yang disampaikan
guru-guru dalam kelas

pendek saja,
sebatas tulisan tenar
papan plang sekolahmu

atau didinding ruang tamu
sebuah paparan kaku
dalam pigura
sampai mana hidupmu berlaku

menempel di otak
menyeruput bagai benalu
kering segala lugu
membuat layu malu-malu

ia cuma selembar mata uang
yang selalu terpikir
dalam saku

30712

Bersambung…

, , , , , , ,

Leave a comment

Aku penyair sedih

Dari sesak itu ia menutup pintu. Rapat-rapat berharap rasa-nya tak meruap. Sudah seribu kata
yang loncat tak sempat ia catat. Pada udara yang mengalir, kadang-kadang berubah jadi gelap malam,
burung gagak atau orang pesakitan. Yang banyak tertulis di buku harian.

Dalam kamar beku ini, kata-kata jarang pergi. Sekalipun terbang, tetap akan melayang.

Maka buru-buru ia nyalakan laptop. Menangkapi kata-kata yang seliweran. Atau jika kadung menguap,
Ia pungut saja dari pori-pori kepala. Mengetiknya di ruas kaca.

Tanpa sadar ia mendapati kata-kata yang barusan di susunnya: ‘aku penyair sedih’.

Titik.

Kata-kata yang melayang hilang. Mungkin nempel di dingin dinding. Mungkin juga di telan cicak,
Menyangkanya nyamuk yang mabuk obat.
Kata-kata yang merembes di pori-pori kepala juga hilang. Tapi rasa-nya masih mengiang.
Apakah kamar beku ini, membuat kata-kata malas keluar?

Dari sesak itu ia buka jendela. Berharap rasa-nya tiada mereda. Ia kebet selembar demi selembar angin.
Angin yang sudah menuliskan kata-katanya sendiri menjadi angin. Dingin. Dalam sebuah buku puisi.

Ah, rupanya rasa ini telah lembab. Meleleh pada embun malam, menjelma koar seram burung gagak,
Atau di dalam jeruji, menjadi mata pisau para pesakitan.

Dan dari sesak itu. Ia hanya mampu menambahkan waktu dibawah tulisannya:

‘aku penyair sedih’.

22 Juli 2012.

220712

, , , ,

4 Comments

Anak singa

: Wildan Haidar

Belum saatnya, nak
meninju dan menyepak bapak
sekeras apa pun kepalmu
yang kau tinju itu dinding
goa tentram tempat kau di eram
segeram ingin mu menyepak
yang kau sepak hanyalah karang
hulu dari darah dan airmata mengalir

mengapa kau tak bisa diam, nak
bergerak di antara awan teduh
jumpalitan di bawah dedaun nan rimbun
tempat mu yang redup itu fana
sebentar, kau akan lihat hujan dan kemarau

belum saatnya, nak
menimba segala persoalan
bebas bukan berarti sejadinya
kagak puguh lagu di dataran rimba
nikmati pelan-pelan segarnya
dari sumber tempat biasa kita berkaca

– bapak dan ibu mu tak perlu lagi menyangka
semua sudah tercerna
yang bebas bergerak itu pemuda –

pagi ini,
di cuaca teduh
di bawah alang-alang kita menderum
tinju dan sepaklah bapak
sembari menangkap aroma muka
: cara berkuasa

1372012

, , , , , , , ,

3 Comments

Nangka kebon

Tai babal

1/
Akan ku lukis tipis,
tepat ditempat kumis masih kelimis.

Tentu kamu lupa aku
yang jatuh
berabu tanpa api
gosong
jadi humus tampan mu

lupakah kamu?
ditiap cermin
kini ku gagahi kamu

2/
Aku yang lahir getir
penawar airmata dikubangan mataair
aku yang masih kecil
mampu meladeni kecipak lidah mu

dimana getirnya?
Sejak bibir digincu merah
leleh liur lebih tampak merekah

dimana getirnya?
bila ditiap cermin
ujung hidungmu mengunyam pedas
dan pipipipimu menyungging asam

 

Gori

Aku yang dilupakan
remah dilahap zaman
liur tiap hidangan

aku yang dilupakan
getir di bibirbibir moyang mu
penawar kata ketus mu

aku yang sekarang rindu
mengulum bengis kumis dan gincu merah mu
mengecap liur kecipak lidah mu

apakah kau lupa?
dulu sambil duduk bersila
kita mandi bersama

 

Cecek

Ini bukan getir hidup ku
di nikmati sanasini
antar desa antar daerah
di gagahi gonogini
antar kota antar provinsi

sebut moyang mu tukang jarah
tak henti menjamah di zaman susah
dalam keranjang sepeda kumbang
dan liuk temaram obor
di jaja aku pada tiap orang kota yang lewat

ini bukan getir mati ku
pada masa muda
kau jarah perawan ku
demi hidup yang gagah
kau cabik-cabik
mutilasi tubuh ku

jika saat berkumpul tiba
kau syukuri jasad ku
dengan mencium kening istri mu

 

Nangka

1/
Bersila berarti bahagia
di bale pelupuh belakang rumah
tanpa gerah dan airmata
tubuh tambun ini pasrah

2/
Tepat di dada ini kau koyak
tubuhku kau anggap musuh
tanpa baju zirah
melahap jantung ku

3/
Aku ini ibu,
yang penuh luka
menyusui mulutmulut bengis mu
menahan nyinyir ciplak lidah getir
disamping borok perut ku

Aku ini ibu,
ibu satu susu tumpah darah mu
mengasuh kunyah kalem leleh gincu
mengangon sungging tipis kumis menari
di atas tanah subur moyang mu

Untuk mu,
lukaku utuh
pada tiap puting
pada tiap kantung rahim janin ku

kelak,
akan jadi negara anak cucu mu.

 

Bulan Mei 2012

, , , , ,

15 Comments