Posts Tagged cinta

Cinta monyet dan malam

CINTA MONYET

Mudamudi mengupas cinta
malam, sendirian mengunyah rasa

Ciputat, 06-03-2013

aku hadir pada setiap kata
pada gerakan tangan serupa menjelaskan

aku duduk diatas beton yang kedudukan
padanya ungkapan cinta dan kehadiran dituliskan

aku menjajari batang-batang pinus
diantaranya setiap rindu menjelma kabut

aku kaku pada helaian rambut
dan mengkerut pada sidik jari

aku meragu sepanjang pintalan syal
bahwa kehangatan adalah gigil

aku menyimak dikecipak air sungai
membawa syair rindu sampai muara

aku berdesak dalam kantong jaket
penuh sesak hasrat yang ku kira hati

aku sembunyi dalam belukar
menaungi banyak cinta direbahkan

aku adalah gelap yang mereka ciptakan
dalam kebutaan itu mereka saling raba

19031

, , , , , , ,

6 Comments

Usia yang tanggal

usia yang tanggal
tersimpan rapih dibawah bantal
aku dan malam mengenang
milik peri mimpi ia sekarang

usia yang tanggal
tersimpan rapih dibawah bantal
aku dan malam adalah sejoli
bercumbu didasar waktu tak berkesudahan

Usia yang tanggal
tersimpan rapih dibawah bantal
aku dan malam, sepasang mata yang terjaga
pada pusara yang belum bernama

 

18-23 Oktober 2012

, , , , ,

4 Comments

Purnama

Ketika malam mendung, aku melirik langit
mengintip pergerakan awan kelabu yang genit

dicerai-berai angin, ia membentuk wajah orang
sisik ular atau telapak tangan

ah, ternyata bukan angin pembuatnya
perupanya justru bulan dengan sinarnya

purnama megah
lukisanmu indah

Oktober 2011

, , , , ,

2 Comments

Suatu sore di hari kerja

kerut di jidat
longsor
lewat pelipis tanpa alis
numpuk dimata
rimbunnya merah
entah, mungkin menjadi tahi mata

keringat berbulir, beku
takluk oleh ragu-ragu
bergulir ke jantung
tiada mencair
jadi letih pori-pori
sebagai jalan keluar kembali

redam segala impian
perjalanan panjang usia
tak ada arti
di hening di ramai
keruh mata air
tumpahkan air mata

ketika telunjuk keras menumbuk
remuk dada kami
telah kau buat sangsi :
hati

November 2011

, , , , ,

Leave a comment

Rindu kata-kata

kata-kata ini
catatan rindu terbenam
di kutip dari muasal
dasar bumi paling dalam

sebagaimana suaranya:
‘rinduku berkata-kata’

lepas
lunglai diruas kertas
rinduku bebas meretas
melepas kalimat asuhan alam
tercetak tanpa wawasan

rinduku,
bukan buatan tangan

19112011

, , , , ,

2 Comments

Mengurai rindu

Aku melihat segala yang kau pandang
Sudut-sudut terbuka
perihal diam dan bergerak

dijalanan terhampar seluruh tapak
tak perlu rasa-ku lelah memburu jejak
lelah yang lama di keluhi kaki
terasa gatal pegal kepingin di obati

lewat mata mu
aku melahap nikmat kenangan mu
kenangan yang terhidang begitu hangat
sesaji rasa-ku
penawar ingin dan dingin ku

bersama langkah mu
di jalan itu
aku sendirian berurai rindu

Oktober 2011

, , , , ,

Leave a comment

Semalam dirumah bidan

19:30 wib

Kalau ditanya pertanda, tiada
tiada angin tiada hujan ia datang, seperti kabar
selepas isya ia datang:
cair,
mengalir dari bibir, hulu
bongkahan beku mata air
meretas didinding, bening

selaput ketuban pecah

‘bergegas cinta, ini saatnya untuk berkaca’
tenang, pelan-pelan permata
kita basuh muka dibeningnya

20:30 wib

Ketuban pecah berbahaya
1 x 24 jam harus lahir
selebihnya bahaya, kering
tiada lagi kehidupan bisa kau pinta

20:45 wib

‘Bapak dari calon bayi, mana?’
suara santai perempuan
ibu bidan setengah baya, bertanya
‘saya’.
lelaki tergagap, menjawab
jenggot didagu ikut bergerak
‘mesti di infus ya pak, biar basah, merangsang mules-mules’
menitik diselang
merembas di urat
menyatu dengan syaraf

21:30 wib

waktu berjalan tergantung perasaan
langkahnya perlu disesuaikan
memburu kita, sembunyi ia
temukan, cobalah memberi salam
menjabat tangannya untuk berteman

23:00 wib

Malam serasa ramai
dihawa penuh obrolan
diduduk diberdiri waktu menemani
mencerna kata, kata siapa mudah?
tak tahu kasar, tak tahu halus
tak tahu apakah berirama
sudah, lupakan saja
biar pena yang menuai

23:15 wib

Aku dan waktu bersahabat penuh, sederhana
diruang belakang yang sesak harapan
meniti kata seuntai doa
sejalan saja,
tiada basa-basi untuk pergi atau meninggalkan
apa lagi lupa kata, untuk bercerai
aku dan ia sangat menikmatinya
saat ibuku datang menawarkan perselingkuhan, ia tenang
begitu juga saat adik perempuanku membawa kenalan
ia tenang, berbisik: sabar, kita sudah tunangan
ia selalu mengingatkan: ini aku, waktu
teruslah bergandeng disampingku
walau merayap, alhasil semua senyap
didetik itu, nanti, sebentar lagi
inginmu menemui

23:45 wib

kau wanita perkasa
diusia belia
ditahu yang perawan
dimau yang kosong
didoa yang berulang
dipuji yang tersebut

00:05 wib

Headline news
dikaca televisi 14 inchi
sekilas, duka ditampilkan, berderet luka
luka-luka yang mesti diobati
bukan digaruk lagi
duka yang mesti diseka, diusap, dibangun
menatanya utuh kembali

tapi sekarang zaman televisi berwarna
tak lagi laku hitam putih

02:30 wib

Wanita ini memang perkasa
tiada kata berbilang: tidak!
ini kesempatan purba
melengkapinya sebagai wanita

– jeda mules-mules makin kerap
rintihan terdengar acap –

wanita itu juga perkasa
tiada kerja terbilang: kata
itulah biasa tapi langka
merancang waktu, gemar menunggu

– datang pada batas interval
jari-jari begitu hafal –

04:15 wib

Tikar pandan yang digelar semenjak sore akhirnya memberi saran
untuk sekejap meruntuhkan tubuh diatasnya
menyelonjorkan kaki atau sekedar tidur ayam
dari tadi ia lelah menyarap telapak, menjaganya dari dingin hawa ubin
aku faham, aku menangkap maksud baik tawarannya
bahwa sekarang tubuh tak seutuh dulu
tapi…aah, setiap kudengar rintihan perempuan didalam kamar
mana sempat aku meladeni ajakan mesranya
apa lagi saat kuintip duka perempuan yang terus bertahan
mata ini menjadi tegar, tak sudi lagi memejamkannya, walau sebentar
tapi, ya sudah, biar bagaimanapun ia sahabat
tak enak rasanya menolak niat baik sahabat
kuselonjorkan kaki saja, ingat!, tidak untuk memejamkan mata
sebagai gantinya, aku berjanji:
sebentar akan datang subuh, kujadikan ia tempat bersimpuh

04:50 wib

ini rindu
diwaktu sempit
bersama-Mu

06:15 wib

Ini titik yang dijanjikan waktu
detik dimana kami sepakat berpisah
‘sesekali akan kau lihat aku nun jauh,
sesekali kau merasa aku membuntutimu’, katanya
diperbatasan cahaya, fajar

06:20 wib

Seorang yang dikuasai kepadanya keterampilan, ucapannya lebih bermakna
ketimbang seorang pandai berkata-kata, tiada bekerja
ia dayung sampanku
menyebrangi lautan sedih

aku tidak SIAGA!

aku memilih menepi
dari gemuruh lautan rintih

06:35 wib

Mulai pagi ini aku panggil kamu
‘ibu’.

29-30 Oktober 2010

, , , ,

2 Comments

HUJAN REDA

Hujan reda
seperti tadi kupinta
serintik dua tinggal tersisa
mengenai bunga melati disisi kolam mati

Kicau burung sepi
gerimis tak nampak sigrah
setetes dua tampak menggoda
jatuh dari lembar daun kelapa
ketanah basah dan kubangan yg resah

Bunga asoka
kembang pepaya
warnamu bagai menyala
seperti mata yg berharap
seperti langkah hendak bergegap
bathinku mimpi selubung selalu nyeri
sepenggal cerita merasa berkata:
kamu dimana?

Hujan reda
semisal gundah merona
dihari sunyi hati gulana
ada kupu-kupu gagu
ada burung peking kuyu
ada harapan yg tergugu
ada ragu yg mendayu

Hujan kembali datang
sederas mimpi

29709

, , , , ,

Leave a comment