Posts Tagged penyair

Aku penyair sedih

Dari sesak itu ia menutup pintu. Rapat-rapat berharap rasa-nya tak meruap. Sudah seribu kata
yang loncat tak sempat ia catat. Pada udara yang mengalir, kadang-kadang berubah jadi gelap malam,
burung gagak atau orang pesakitan. Yang banyak tertulis di buku harian.

Dalam kamar beku ini, kata-kata jarang pergi. Sekalipun terbang, tetap akan melayang.

Maka buru-buru ia nyalakan laptop. Menangkapi kata-kata yang seliweran. Atau jika kadung menguap,
Ia pungut saja dari pori-pori kepala. Mengetiknya di ruas kaca.

Tanpa sadar ia mendapati kata-kata yang barusan di susunnya: ‘aku penyair sedih’.

Titik.

Kata-kata yang melayang hilang. Mungkin nempel di dingin dinding. Mungkin juga di telan cicak,
Menyangkanya nyamuk yang mabuk obat.
Kata-kata yang merembes di pori-pori kepala juga hilang. Tapi rasa-nya masih mengiang.
Apakah kamar beku ini, membuat kata-kata malas keluar?

Dari sesak itu ia buka jendela. Berharap rasa-nya tiada mereda. Ia kebet selembar demi selembar angin.
Angin yang sudah menuliskan kata-katanya sendiri menjadi angin. Dingin. Dalam sebuah buku puisi.

Ah, rupanya rasa ini telah lembab. Meleleh pada embun malam, menjelma koar seram burung gagak,
Atau di dalam jeruji, menjadi mata pisau para pesakitan.

Dan dari sesak itu. Ia hanya mampu menambahkan waktu dibawah tulisannya:

‘aku penyair sedih’.

22 Juli 2012.

220712

Advertisements

, , , ,

4 Comments